Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Tuesday, 16 June 2015

Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Hai, ksatria yang dulu aku tunggu
Bagaimana kabarmu?
Apakah kau masih menganggapku sang putri?
Setelah selama ini kau kejar
Yang kemudian kubawa terbang
Dan lantas aku tinggalkan

Masihkah aku menjadi seorang putri?
Tolong kau pikir lagi

Kau mungkin keliru
Tanpa kau sadari akulah sang bintang jatuh
Yang barbaik hati menolongmu menjemput sang putri
Namun ku ingkar janji

Kau pasrahkan seluruh hatimu padaku
Padaku, yang kau anggap bisa membantu
Kemudian kau seolah mengerti
Bahwa mungkin akulah sang putri yang kau cari
Yang tak mungkin membuat sakit hati

Kau mungkin keliru
Tanpa kau sadari akulah sang bintang jatuh
Yang membawa terbang seluruh hatimu
Dan kemudian menghempaskannya utuh-utuh

Kau hanya tergugu, Ksatria
Seakan kau baru sadar
Aku bukanlah putri yang sesungguhnya

Ya, akulah sang bintang jatuh
Menawarkan keindahan cinta yang mungkin bisa kau dapat
Namun kubuat retak, remuk, dan kemudian hancur
Jatuh

Ya, karena akulah sang bintang jatuh
Tunggu hingga putri memunguti hatimu kembali





22 Desember 2014
Terinspirasi dari Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh by Dee

Monday, 1 September 2014

cinta kebetulan

Aku tak menahu akan takdir
Entah, takdir seperti apa yang akan aku jalani denganmu
Semua yang aku rasakan kini tak lagi sama seperti yang terucap bibir
Kau tahu, benar aku tak menaruh rasa padamu
Kau tahu, itu benar saat kuucap dulu
Kau tahu, aku benar tak ingin menyatakan
Bahwa kini hatiku telah mempersiapkan diri
Bahwa kini cintaku mulai bersemi
Bahwa rasaku mengecap ini

Apakah menurutmu cinta kita masuk akal?
Ketika semua berawal dari tak ingin mengerti
Yang kemudian berubah memberi arti
Dan selanjutnya ingin memiliki
Apakah menurutmu cinta kita masuk akal?
Ketika kau memutuskan untuk mengabaikan cinta lalumu
Dan kemudian memilihku
Yang sungguh tak lebih baik dari dia yang ingin bersamamu
Apakah menurutmu cinta kita masuk akal?
Ketika kita tak lain adalah orang asing
Yang kemudian tergelak bising
Dan seketika kau sulap menjadi calon pendamping
Apakah menurutmu cinta kita masuk akal?

Ini jelas cinta kebetulan
Tak lain karena kuasa Tuhan
Sudah, aku tak ingin lelah berpikir
Jodoh seperti apa yang akan terukir
Cukup, nikmati saja cinta kebetulan ini
Semoga aku dan kau direstui..

Saturday, 21 June 2014

my Mr. Perfect

Hai, my Mr. Perfect..
Apa kabar kamu?
Apa kabar cintamu?
Masihkah sama dengan yang lalu?
Hatimu semu
Cintamu meragu
Masihkan aku di hatimu?
Karena yang kurasakan kini kau tak lagi menanti
Karena yang kurasakan kini kau tak lagi membagi arti
Karena yang kau rasakan kini ku tak lagi berarti

Sunday, 1 June 2014

casanova

Hai, casanova..
Apakah kau senang kini aku tak lagi berdua?
Apakah kau senang kini hatiku tak lagi kaku?
Apakah kau senang kini aku tak lagi sulit tuk kau dekati?

Casanova..
Apakah kau tak bosan menantiku?
Yang sebentar lembut, sebentar acuh..
Apakah kau tak marah padaku?
Yang sebentar ingin kau hadir, sebentar lari..
Apakah kau tak cemburu?

Casanova..
Harusnya kau tak boleh cemburu melihatku bersama casanova lain
Toh kalian sama..
Berebut mendapat cinta
Dari putri manja yang haus kasih sayang
Yang tak pernah kau tau apa jawabnya

Casanova..
Berkali-kali kau bisikkan cinta
Namun pura-pura aku tak mendengar..

Casanova..
Jangan pernah menaruh hati padaku..
Karena tak pernah bisa aku menjanjikan tuk merawat hatimu..

Casanova..

hujan dan mawar

Hujan..
Mengapa kau datang di saat ku terluka?
Tahukah? Tetesmu semakin menyiratkan duka hampa..

Hujan..
Aku ingat ketika rintikmu menyentuh lembut mawar ini..
Membuat segar, membuat mekar..
Tak lama datangmu lebat
Lengkap dengan hembusan angin yang terlewat kencang..

Jangan..
Aku mohon jangan terlalu deras..
Kini percikmu tak lagi segar..
Sakit..
Bahkan tetes lembutmu yang dulu kini menjelma jarum menggigit kulit
Nyeri..

Hey hujan,
Jangan lagi kau sentuh!
Jangan sampai derasmu menyakiti mawarku!
Aku tak ingin mawarku sakit, dan kemudian gugur..

Wednesday, 12 March 2014

fatamorgana

Fatamorgana
Tak menahu aku kapan bertemu
Tak menduga aku darimana kau datang
Tak menyangka aku ternyata kau sudah dihadapan

Fatamorgana
Tiba-tiba nampak
Tiba-tiba menyerang
Tiba-tiba ada, datang

Fatamorgana
Darahku bergerak lebih cepat saat berjumpa
Jantungku berdetak lebih keras
Hadirmu membuat sesak, buncah
Membuat lupa

Fatamorgana
Kau pikir dirimu siapa?
Seenak hati datang menyenangkan
Yang kemudian menghilang karena semu
Lantas mengecewakan

Fatamorgana
Tolong sudahi harapan yang kau beri
Untuk apa bila tak nyata?
Apa tak cukup kau lihat aku telah meronta?
Dahagaku ini sudah tak mampu lagi ku tahan
Ragaku sudah lelah menggapai
Jadi jangan janjikan apapun bila itu tak pasti

Fatamorgana
Entah seberapa jauh akalku berjalan
Entah seberapa keras hatiku terpukul
Aku tetap menantikan kau

Fatamorgana
Bodohnya aku
Yang masih berharap kau ada
Yang masih menyangka kau nyata

Sunday, 17 November 2013

sang penikmat cemburu

Hai kamu, sang penikmat cemburu
Sudahkah kau hirup aroma kasih dari dia yang tak kau miliki?
Sudahkah kau cicip manis rasa sayang di pucuk hati?
Sudahkah kau sesap sesal hati melihat dia pergi?

Hai kamu, sang penikmat cemburu
Cinta yang kau miliki ini tak lebih harum dari kopi yang kuseduh setiap pagi
Sayang yang kau pelihara tak lebih indah dari kuntum mawar putih yang biasa kupetik
Namun mengapa rasanya sepahit kopi, dan sesakit tertusuk duri mawar putih?
Aku haru.. Aku meragu..

Hai kamu, sang penikmat cemburu
Bukankah rasamu lebih lelah dari berlarian di musim panas?
Bukankan lukamu lebih menganga dari korban baku hantam?
Bukankah hatimu lebih penat dari riuh jalanan kota?
Lalu mengapa kau masih memilih bertahan?

Hai kamu, sang penikmat cemburu
Entah..
Tak menahu aku tentang kebenaran cinta
Tak menahu aku tentang cinta buta
Entah..
Yang kulihat kini kau sakit
Yang kulihat kini kau perih
Yang kulihat kini kau (masih) tak ingin pergi

Friday, 25 October 2013

pelacur hati

Entah..
Mulutku bungkam mendengar kau curahkan apa yang kau, dan juga kau rasa
Telingaku panas
Hatiku lebur menjadi satu dengan serpihan hati yang terjatuh
Sama. Sakit.

Ah, tidak..
Hatiku terlalu banyak mengambil tempat
Melihatmu bangkit aku ingin
Entah..
Kenapa tak kulacurkan saja hatiku ini?

Sebut saja aku pelacur hati
Kujajakan hati ini demi sesuap bahagia dan secuil cinta
Darimu, darinya, dari siapapun setelah putus cinta

Sebut saja aku pelacur hati
Kupungut saja hati yang sudah retak, yang kemudian kujadikan utuh
Sehingga sesegera mungkin dapat kau, kau, dan juga kau pakai lagi untuk mencintai wanita lain

Sebut saja aku pelacur hati
Tak tahu diri mengambil sisa hati yang jatuh, yang rapuh
Menyesap nikmatnya cinta untuk sesaat
Dan kemudian membalikkan badan, membiarkanmu mencari cinta baru

Sebut saja aku pelacur hati
Permisi pergi setelah kau siap berpindah hati
Menyisakan kenangan yang sempat kukecap kemarin
Hati nyeri, namun tak bisa kitinggalkan rutinitas ini

Ya, sebut aku pelacur hati

dear you

Dear you,
Aku teringat kupu-kupu yang menghempaskan sayapnya menuju kekagumanku padamu
Warnanya biru
Warnamu.. Aku tak tahu apakah itu kuning langsat atau coklat susu
Aku terpesona
Tak hanya pada kupu-kupu, juga padamu

Dear you,
Tahukah, aku selalu menunggu kamu lewat
Entah depan rumah, entah di pasar
Aku menunggumu
Aku ingin memandang parasmu
Walau sedetik, aku ingin

Dear you,
Apakah ini cinta ketika aku merasa sesak saat kau lewat?
Napasku memburu ketika bertemu
Peluhku jatuh bahkan ketika aku hanya melihatmu

Dear you,
Diriku terlalu kecil untuk kau lihat
Duniamu terlalu indah untuk kujamah
Maaf, aku memilih bersama pria lain, walau mataku terus mencarimu
Entah, aku haus melihatmu

Dear you,
Tak kusangka kau merasakan hal yang sama
Tapi ada daya, ku sudah bersamanya
Kuingin milikimu, tapi ku tak bisa
Entah, aku tak sampai hati melukainya
Maaf, kita menemukan cinta yang terlambat

ini terlalu menyakitkan

Apakah terlalu susah untukmu meninggalkanku seperti angin lalu?
Ini terlalu menyakitkan..
Kau membalikkan badanmu tepat di depan mata
Ini terlalu menyakitkan..
Berharap pada cinta yang tak mungkin kugenggam
Ini terlalu menyakitkan..
Mencintai tanpa bisa memiliki
Ini terlalu menyakitkan..
Mendapati akhirnya kau memilih pergi..

apakah ini cinta

Apakah ini cinta ketika masanya sudah lewat?
Apakah ini cinta ketika mendapati kau tak mampu kugenggam?
Apakah ini cinta ketika kau kandas namun hatimu tinggal?
Apakah ini cinta ketika aku dan hatiku tak bisa menuju satu? Kamu.

terlambat

Aaaah...
Aku tak tahu lagi apa yang harus kuucapkan ketika kau datang
Membawa cintamu. Untukku. Malam ini.

Kau tahu, ini merupakan hal yang tak mudah
Cintaku belum kebas
Ya untukmu, ya untuknya. Tetap.

Aaaah..
Aku tak sanggup melihat wajahnya ketika hatiku jelas terbelah dua
Bukan karena patah
Karena masing-masing ada pemiliknya
Kau. Dan dia.

Aku tak menahu mengapa kau datang, membawa nostalgia
Di saat aku dan dia sedang enggan memancing cinta
Ya, kau masuk begitu saja menyusupi celah hati dari gang sempit
Menemukan tahta dimana kau pernah berada
Kau terkejut mendapati namamu ada di hati kecilku
Meski tlah rapuh, meski tlah pudar

Kau tahu, akulah satu penggemar rahasiamu
Dan kini, kau tawarkan cinta di saat ku sudah bersama
Dengannya. Yang juga kucinta.

Monday, 15 April 2013

cinta pertama

'Sayang, ada surat nih buat kamu.', suara ibu terdengar sesaat setelah aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Surat? Surat apa? Dari siapa? Emang sekarang masih jaman surat-suratan ya?. Tak ingin lama-lama berpikir, aku segera menuruni tangga menuju datangnya arah suara.

'Dari siapa, bu?'
'Nih, lihat aja sendiri.', disodorkan surat coklat tebal itu kepadaku. Sambil mencari nama pengirim, aku duduk di sofa ruang tamu. Dahiku mengernyit. Dia? Mantanku? Cinta pertamaku? Ada apa nih? Kabar terakhir sih dia pindah ke Sumatra. Lekas saja aku buka bungkus coklatnya. Mataku terbelalak ketika mendapati isinya. Undangan. Bukan undangan khitan adiknya, karena adiknya perempuan. Tapi itu undangan pernikahan dia. Langsung kuseret langkahku, menaiki tangga, kembali ke kamar, tak lupa membawa surat undangan pernikahan dia.

Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Huft... Nikah ya? Bibirku menyunggingkan senyum getir. Secepat ini? Huft.. Kembali aku menghela nafas panjang. Kubuka lemari, dengan cepat kutemukan buku harian jaman SMA dulu, jaman awal kita pacaran. Jemariku mulai mengayun di deretan foto. Foto kita. Foto siapa lagi? Cuma kamu yang ada di hatiku, waktu itu.

Aku ingat ketika awal kita berkenalan di lapangan olahraga. Tubuhmu penuh peluh, dan aku bertanya 'Toiletnya dimana ya?'. Kamu tertawa geli, kemudian dengan senang hati mengantarkan aku yang sudah kebelet ini ke toilet. Ternyata kamu masih menungguku, dan mengajakku berkenalan denganmu.

Aku ingat ketika kamu mengajak aku yang kurang gaul ini nonton. Waktu itu baru pertama kalinya aku ke bioskop. Hihihiii... ya jadi maklum aja kalo aku celingak celinguk kayak orang udik, kamu hanya tersenyum dan membelai lembut kepalaku.

Aku ingat ketika pertama kali kamu membawa aku ke rumahmu, mengenalkanku pada kedua orangtuamu. Mereka begitu senang melihatku. Entah karena aku cantik, atau karena kamu yang jarang mengajak perempuan ke rumah. Yang jelas renyah suara ibumu saat menyambutku masih bisa kudengar sampai sekarang.

Aku ingat ketika pada akhirnya kamu bertemu ayahku. Tangan gemetaran, perutku juga terasa mulas. Tak pernah aku mengenalkan pacarku sebelumnya. Kamu yang pertama. Tapi sayang, orangtuaku kurang bisa menerimamu berpacaran dengan putri satu-satunya ini. 'Pekerjaanmu kurang jelas.', katanya.

Aku ingat kamu pernah bilang 'Kamu tenang aja, setelah aku lulus dan dapet kerja, aku bakalan datang lagi ke kamu, buat ngelamar kamu, buat yakinin orangtuamu kalo aku bisa. Kamu tunggu ya..'. Ah, sampai kapan aku harus menunggu? Kamu tak kunjung datang. Bahkan di suksesmu kamu seakan melupakan aku. Melupakan janji kita. Hari itu aku menunggumu sampai malam datang. Ah, sampai esok pagipun kamu tak datang.

Huft... Masih lekat pula dalam ingatanku ketika kamu menghubungiku kembali. Senang dan kecewa hati ini jadi satu. Kamu bercerita panjang lebar tentang kemajuan bisnismu, suksesnya pekerjaanmu, seolah-olah kamu lupa, tak pernah menjanjiakan apapun. Aku hanya tersenyum. Saat kamu meminta cintaku kembali, kumenolak. Aku sudah bersama yang lain.

Ah, sudahlah. Aku doakan kamu bahagia bersamanya. Mataku mulai terpejam, namun sebelum aku terbawa ke alam mimpi, aku dibangunkan oleh dering handphoneku. Ada SMS masuk, 'Sayang, kamu udah coba survey kateringnya belom? Ini aku ada opsi tempat bagus lagi nih.'. Aku tersenyum. Dari calon suamiku. Kubalas cepat 'Udah, sayang. Yang tadi enak juga kok.'.

Aku tersenyum. Pernikahanku satu bulan setelah pernikahan cinta pertamaku. Lucu ya, dulu kita berjanji akan duduk di pelaminan bersama. Namun Tuhan punya rencana lain, kita menikah di tahun yang sama namun dengan pasangan yang berbeda. Semoga kamu bahagia. Semoga aku bahagia. Kenapa aku tidak menuliskan 'semoga kita bahagia'? Karena sudah tidak ada lagi kata 'kita' diantara kamu dan aku.

-Wilanda Permaisuri-
150413