Entah sudah berapa malam kurindukan hujan.
Hari ini datang, sayang. Hujan.
Coba kuhirup bau hujan bersentuh tanah. Aku tenang. Aku senang.
Sayang, hari ini hujan.
Entah sudah berapa menit anganku melayang. Memikirkanmu.
Hujan ini sama seperti yang lalu, sayang.
Ingatkah, kita terdiam memandang hujan selesai kencan. Lama.
Kau lepas jaket yang melapisi tubuhmu, bersiap membaginya denganku.
'Dek, kayaknya kita harus nekat menerobos hujan.'
Aku hanya bisa menatapmu dengan tatapan bingung, sayang.
'Ngapain mas? Kan aku bawa payung.'
Aku hanya bisa tersenyum mengingat jawaban luguku, sayang.
Aku masih ingat, kau menatapku dalam. Entah kagum, entah bingung.
'Kamu kok bisa sih bawa payung?'
Waktu itu dahiku mengernyit. Bingung.
'Kan emang musim hujan, mas.'
Sayang, aku sudah diajarkan oleh pepatah. Sedia payung sebelum hujan.
Hari ini musim hujan, sayang. Aku harus membawa payung.
'Kamu pinter, dek.'
Entah aku memang pintar, atau karena kamu tak pernah belajar pepatah. : )
Sayang, hari ini hujan.
Entah, aku merasa hujan ini sama.
Sama seperti ketika kita terdiam memandang hujan setelah kencan.
Hujannya tak deras, namun tak kunjung reda.
Entah, aku merasa hujan ini sama.
Sama seperti hubungan kita. Cinta kita.
Tak deras, namun tak kunjung reda.